Monday, April 24, 2017

RPP IPA kelas 2 semester 2 Sumber Energi

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN
( RPP )

Sekolah                       : MI Hasanuddin
Mata Pelajaran          : Ilmu Pengetahuan Alam
Kelas/Semester           : II/ 2
Waktu                         : 2 x 35 Menit
 


A.      Standar Kompetensi:

3. Mengenal berbagai sumber energi yang sering dijumpai dalam kehidupan sehari-hari dan kegunaannya.
B.       Kompetensi Dasar:
        3.1      Mengidentifikasi sumber-sumber energi (panas, listrik, cahaya, dan bunyi) yang ada di lingkungan sekitar.
C.      Indikator:
3.1.1 Menjelaskan pengertian sumber energi
3.1.2 Menyebutkan macam-macam energi
3.1.3 Menyebutkan sumber energi yang ada di lingkungan sekitar
3.1.4 Menyebutkan benda-benda yang dapat menghasilkan energi panas, listrik, cahaya, dan bunyi
D.      Tujuan:
3.1.1.1 Melalui penjelasan guru siswa dapat menjelaskan pngertian sumber energi
3.1.2.2 Melalui Tanya jawab siswa dapat menyebutkan macam-macam energi
3.1.2.3 Melalui media gambar siswa dapat menyebutkan sumber energi yang ada di lingkungan sekitar
3.1.3.4 Melalui permainan dan video siswa dapat menyebutkan benda-benda yang dapat menghasilkan energi panas, listrik, cahaya, dan bunyi.
E.       Materi Pembelajaran:
Sumber-sumber energi (Terlampir)
F.       Metode Pembelajaran
Metode Ceramah, diskusi, Tanya jawab dan permainan
G.      Langkah-langkah Pembelajaran
Langkah-langkah


A.  Kegiatan Awal  ± 10 Menit
1.      Guru membuka pelajaran dengan mengucap salam
2.      Guru dan siswa berdoa
3.      Guru memberikan semangat dalam belajar
4.      Guru mengecek kehadiran siswa dan menanyakan kabar
5.      Peserta didik dibagi menjadi beberapa kelompok
6.      Apersepsi, guru menyalakan lampu dan menanyakan kepada siswa bagaimana keadaan ruangan.
7.      Guru bertanya apakah siswa pernah membantu menjemur pakaian, untuk apa pakaian dijemur.
8.      Guru menyampaikan pembelajaran yang akan dipelajari yaitu sumber energy



B.     Kegiatan Inti ± 40 Menit
9.      Guru menjelaskan pengertian sumber energi
10.  Guru mengajak siswa menyanyikan
”Lagu sumber energi (nada balonku ada 5)”
Api energi panas, setrika energi listrik, lampu energi cahaya, semua sumber energi. Bisa diubah ubah, sesuai manfaatnya, mari kita semua, harus selalu menjaga.
11.  Guru tanya jawab tentang lagu yang dinyanyikan
12.  Siswa dapat menyebutkan macam-macam energi
13.  Guru menunjukkan salah satu media gambar yang dapat menghasilkan energi
14.  Guru dan siswa tanya jawab tentang sumber-sumber energi yang ada di lingkungan sekitar
15.  guru mengajak siswa untuk bermain tempel menempel gambar tentang contoh alat-alat rumah tangga yang menghasilkan sumber energi panas, listrik, cahaya, dan bunyi.
16.  Guru menjelaskan aturan permainan
17.  Guru memberikan reward kepada kelompok yang menang
18.  Guru memberikan lembar portopolio (terlampir) dan siswa mendiskusikan dengan kelompoknya.
19.  Guru menyuruh siswa diminta untuk membacakannya di depan kelas secara bergiliran.
20.  Guru meminta siswa untuk menyaksikan video tentang sumber energi
21.  Guru memberikan tugas soal individu
22.  Guru dan siswa membahas bersama-sama

C.    Kegiatan Penutup ± 20 Menit
23.  Siswa diberikan kesempatan untuk bertanya hal-hal yang belum dipahami
24.  Siswa dibantu guru menyimpulkan materi pembelajaran yang telah diajarkan.
25.  Guru mengakhiri pembelajaran dengan memberikan motivasi agar tetap semangat belajar
26.  Guru dan siswa berdoa dan mengucapkan salam


H.      Alat dan Sumber
-          Alat: Media gambar sumber sumber energy
-          Sumber: Buku Ilmu Pengetahuan Alam Kelas 2 oleh Heri Sulistyanto, dkk. 2008. Pusat Pembukuan (hal 59)
I.         Penilaian
-          Bentuk Penilaian      : Isian
-          Jenis Penilaian          : Tertulis
-                                                                               Instrumen      : lembar Portopolio, Soal Individu, Kunci Jawaban dan Pedoman  penilaian



Mengetahui                                                   Sidoarjo,…………………….2017
Kepala Madrasah                                                    Guru IPA



CHUMAIROH F, S.Pd.I                                         CHIKA HUTAMI S, S.Pd



Ø  Instrumen Lembar Portopolio (Tugas Kelompok)
Nama Kelompok:…………………
Anggota:1. …………………..3…………………5…………………..7…………………..
              2. …………………  4………………....6…………………..8………………….
A.    Jodohkan gambar sesuai dengan sumber energi
a.JPG







B.     Jawablah soal soal dibawah dengan jawaban yang tepat!

1.      Untuk apa saja kamu memakai energi listrik?............................
2.      Sebutkan 3 contoh sumber energi yang menghasilkan panas?.........................
3.      Sebutkan 3 contoh sumber energi yang menghasilkan bunyi?.........................
4.      Apa manfaat utama dari televisi?..............
5.      Sebutkan 2 alat penghasil cahaya?.............





Ø  Instrumen Soal Individu
Nama:………………………..          
Isilah titik-titik berikut dengan benar !
1.      Terompet dapat menjadi sumber bunyi jika ....
2.                                                  Alat pada gambar di samping memanfaatkan energi ....


3.      Lampu dinyalakan agar ruangan menjadi ....
4.      Contoh alat yang menghasilkan bunyi adalah ...., dan ....
5.      Sumber energi cahaya adalah ....
6.      Contoh alat yang menghasilkan cahaya adalah ...., dan ....
7.      Setelah dialiri listrik kipas angin dapat ....
8.      Televisi dapat menyala jika ....
9.      Bahan bakar yang digunakan mobil adalah .... atau ....
10.  Mematikan kompor saat tidak digunakan merupakan tindakan .... energi.
Ø  Kunci Jawaban:
1.         Ditiup
2.         Listrik
3.         Terang
4.         Terompet, gendang dan seruling
5.         Kemampuan yang menghasilkan cahaya
6.         Lampu, senter dan lilin
7.         Bergerak
8.         Dialiri listrik
9.         Bensin atau solar
10.     Menghemat









Ø  Materi
Sumber-sumber Energi
1.    Sumber energi yaitu sesuatu yang dapat menghasilkan energi.
2.    Panas, bunyi, cahaya, listrik, dan kimia merupakan sumber-sumber dari energi.
3.    Sumber energi panas yaitu solder listrik, elpiji, dan matahari.
4.    Sumber energi cahaya yaitu cahaya matahari, dan lampu listrik.
5.    Benda yang menghasilkan bunyi disebut sumber energi bunyi, misalnya alat-alat yang dapat menghasilkan bunyi adalah terompet, gitar, gendang, dan gong
6.    Kipas angin, lampu listrik, dan televisi dapat menyala karena adanya energi listrk.
7.    Sumber energi kimia yaitu makanan.
8.    Mematikan lampu saat tidak diperlukan merupakan salah satu cara menghemat energi.

























Pedoman Penilaian
Penilaian Kelompok
No
Nama Siswa
Keberanian
Keaktifan
Kerjasama
4
3
2
1
3
2
1
3
2
1
1











2











3











4











5












dll











Keterangan :
1.    Keberanian (Bertanya, tampil didepan kelas, bertanggung jawab)
Skor 4 : Jika 3 kompenen muncul dalam pembelajaran
Skor 3 : Jika 2 kompenen muncul dalam pembelajaran
Skor 2 : Jika 1 kompenen muncul dalam pembelajaran
Skor 1 : Jika tidak ada kompenen muncul dalam pembelajaran
2.    Keaktifan (Dalam kelompok dan individu)
Skor 3 : Jika 2 kompenen muncul dalam pembelajaran
Skor 2 : Jika 1 kompenen muncul dalam pembelajaran
Skor 1 : Jika tidak ada kompenen muncul dalam pembelajaran
3.    Kerjasama (kekompakan dan keselarasan)
Skor 3 : Jika 2 kompenen muncul dalam pembelajaran
Skor 2 : Jika 1 kompenen muncul dalam pembelajaran
Skor 1 : Jika tidak ada kompenen muncul dalam pembelajaran

Penilian Individu
No
Nama
Jumlah Skor
Nilai
1



2




Dll



Kriteria Penilaian:
Setiap soal diberi nilai 20, skor maksimal 100

Nilai = ( jumlah skor : jumlah skor maksimal ) x 100

Monday, December 29, 2014

PENDEKATAN KEWILAYAHAN MENGANALISIS INTERAKSI ANTAR DESA

1.1  Latar Belakang

Mempelajari pendekatan kewilayahan serta menganalisi interaksi antar desa untuk mengetahui seberapa besar interaksi tersebut,maka akan membahas tentang interaksi antar desa, desa tersebut yaitu: Desa Karangbong, Desa Keboansikep, Desa Keboananom.
            Desa Keboananom dan Desa Keboansikep letaknya saling berdekatan, sedangkan Desa Karangbong agak berjauhan. Akan tetapi desa ketiga tersebut saling berinteraksi satu dengan yang lainnya, karena mempunyai jalan alternatif dan mudah terjangkau dari Surabaya. Disini akan mencari satu desa yang mana interaksinya paling berdominan dari desa yang kainnya. Selain itu akan dijabarkan tentan sejarah dari Desa karangbong dan Desa keboansikep.

1.2  Rumusan Masalah         
            1. Bagaimana terjadinya Sejarah Desa Karangbong?                        
            2. Bagaimana terjadinya Sejarah Desa Keboansikep?
            3. Desa mana interaksinya paling besar?

            4. Dari desa mana yang jumlah pendiduknya paling besar?

BAB II
PEMBAHASAN



 Pendekatan Kewilayahan


Menganalisis antar Desa
2.1 Letak Geografis Desa Karangbong
A. Luas dan batas wilayah
Luas :
 a. Luas desa : 197.782 Ha


B. Batas wilayah
a. Utara : Desa Ganting
b. Selatan : Desa Banjar Kemantren
            c. Barat : Desa Kelopo X
d. Timur : Desa Tebel

 C. Jumlah penduduk
Jumlah Penduduk menurut jenis kelamin:
a. Laki-laki      : 2651 jiwa
b. Perempuan  : 2714 jiwa
     Jumlah        : 5365 jiwa
c. Kepala Keluarga : 1392 jiwa

D. Jumlah Penduduk menurut Agama/Penghayatan terhadap Tuhan Yang Maha Esa
 a. Islam : 5312 jiwa                                                                                                                                              
 b. Kristen : 25 jiwa
 c. Katolik : 28 jiwa





2.2 SEJARAH DESA KARANGBONG
. Sejarah Desa Karangbong
 Asal-usul babat alas desa Karangbong yaitu Mbah Sayid Mahmud asal dari pasukan Mataram. Beliau mempunyai lima saudara, yaitu Kyai Mas’ud (Pagar Wojo), Garnawi (Sukodono-Ngares), Mbah Ragil (meninggal di Kepetingan) dan yang satunya di Tulangan namanya tidak diketahui. Karangbong dari istilah ”Karangan di obong” yang mana di dalam karangan tersebut terdapat gembong (yang dahulu nama dari Macan yang sudah besar) karena Mbah Mahmud menemukan daerah ini dalam keadaan yang berupa alas yang di dalamnya terdapat banyak gembong (macan yang sudah besar) sehingga Mbah Mahmud membakar dan memberikan nama desa ini desa Karangbong. Sedangkan yang dinamakan jalan Surowongso karena Mbah Mahmud mempunyai keturunan yang bernama Surowongso maka nama tersebut dijadikan untuk jalan. Adapun keturunan dari babat alas sebagai berikut:
Surowongso

  • H. Abdul Karim

  • H. Abdul Adhim

  • H. Imam Sya’roni

  • H. Ifon Robert (Kepala Desa sekarang)




2.3 Letak Geografis Desa Keboansikep
A. Luas Wilayah (km 2) : 2;25
B. Jumlah Penduduk Desa Keboansikep
            Jumlah Penduduk: 10993
C. Batas Wilayah
            a. Timur           : Desa Gedangan
            b. Utara           : Desa Bohar
            c. Barat            : Desa Keboananom
            d. Selatan        : Desa Seruni


2.4 SEJARAH DESA KEBOANSIKEP

 Pada Tahun 1850, pasukan Diponegoro datang di daerah hutan wilayah kota Sidoarjo. Pasukan itu di bawah pimpinan Buyut Endang dan Mbah Jogoreso. Mereka memutuskan untuk menetap di sana dan mulai menebangi pohon yang ada di hutan untuk dijadikan sebuah pemukiman. Mbah Jogoreso dan Buyut Endang itu tidak lain adalah tokoh yang sangat berperan dalam munculnya atau berdirinya desa Keboansikep. Mereka adalah Mbah Jogoreso dan Buyut Endang yang telah menjadi suami istri. Pada waktu itu Mbah Jogoreso dan Buyut Endang mencari wilayah yang untuk dibangun rumah sebagai tempat tinggal demi kelangsungan hidupnya. Tidak lama kemudian mereka menemukan tempat yang dianggap sesuai untuk dijadikan pemukiman tempat tinggal. Dengan semangat dan kegigihannya, Mbah Jogoreso, Buyut Endang serta para prajuritnya berusaha menjadikan hutan itu menjadi tempat yang berguna demi kelangsungan hidupnya dengan cara menebang (membabad) hutan tersebut. Dengan semangat, kesabaran, kegigihan yang diajarkan Mbah Jogoreso serta Buyut Endang kepada para prajuritnya yang membatunya, sedikit demi sedikit hutan itu berhasil dijadikan ladang yang dibangun rumah serta tempat untuk ditanami tanaman yang bermanfaat demi kehidupan sehari-hari.

Setelah Mbah Jogoreso, Buyut Endang beserta para pasukan yang membantu dalam pembabatan hutan itu memiliki tempat tinggal yang layak, dalam benak Mbah Jogoreso pernah terlintas fikiran bahwa setiap manusia yang hidup pasti memiliki keturunan atau generasi. Pada akhirnya keturunan itu juga akan menambah jumlah manusia yang hidup di tempat itu. Apakah akan cukup wilayah yang kecil itu, bila jumlah manusianya terus bertambah ?. Akhirnya Mbah Jogoreso merundingkan hal ini dengan para prajurit yang membatunya tadi, kemudian muncul kesepakatan untuk melanjutkan penebangan atau pembabatan hutan supaya menjadi lebih luas wilayah untuk pemukiman demi kehidupan keturunannya kelak.

Sebelum melakukan kegiatan pembabatan hutan ada pembagian tugas yaitu perbedaan tempat atau wilayah yang akan dibabad (tebang). Dalam hal ini Mbah Jogoreso dan Buyut Endang selalu bersamaan untuk penbabatan hutan itu dan berpisah dari para prajurit lainnya. Pada saat Mbah Jogoreso dan Buyut Endang melakukan pekerjaan itu, tiba-tiba mereka berdua menemukan sebuah sungai yang tidak terlalu besar atau lebar. Di sebelah sungai tersebut masih terdapat hutan belantara yang menurut Mbah Jogoreso harus juga dibabad dan dijadikan pemukiman. Meraka berdua bergandengan tangan dalam melewati sungai itu, awal mulanya mereka mengira bahwa sungai itu tidak terlalu dalam. Tetapi angan-angan difikiran mereka tidak sesuai dengan dugaannya. Karena ketika mereka mulai melewati sesamapai di tengah sungai, ternyata sungai itu dangkal. Akibat faktor arus yang yang deras, akhirnya Mbah Jogoreso serta Buyut Endang terhanyut di sungai itu. Tidak lama kemudian setelah penduduk dan para pengikutnya yang sudah selesai membabad hutan, mereka tidak satupun yang melihat Mbah Jogoreso beserta Buyut Endang. Sejumlah penduduk merasa cemas dan kebingungan karena seharusnya mereka berdua sudah kembali ke pemukimannya. Tapi ada seorang dari warga itu memiliki ide untuk mencari Mbah Jogoreso serta Buyut Endang dengan menelusuri daerah yang telah menjadi babatannya. Akhirnya para penduduk setuju dan dimulailah pencarian itu. Langkah demi langkah mereka menelusuri tempat yang sudah dibabat Mbah Jogoreso dan Buyut Endang. Sesampai wilayah terakhir yang dibabat tadi, para warga melihat ada sebuah sungai. Kemudian mereka berhenti dan berfikir apakah mungkin Mbah Jogoreso dan Buyut Endang melakukan pembabatan hutan sampai hutan yang berada di sebelah sungai. Akan tetapi tidak sedikitpun tampak hasilnya. Dari sinilah mereka mulai sadar, apakah mungkin Mbah Jogoreso dan Buyut Endang mengalami kegagalan dalam melewati sungai ! Akhirnya para warga sepakat untuk mencari mereka berdua dengan berjalan di tepi sungai mengikuti arus sungai tersebut. Tidak lama kemudian salah seorang warga melihat Buyut Endang terdampar di tepi sungai dekat dengan sebuah batu besar. Setelah dilihat kondisinya, ternyata Buyut Endang telah meninggal. Akan tetapi para penduduk masih terlihat kebingungan dan gelisah karena Mbah Jogoreso belum juga ditemukan. Ketika berjalan beberapa meter tidak jauh dari tempat ditemukannya Buyut Endang, para warga juga menemukan Mbah Jogoreso dalam kondisi tersangkut di pohon besar yang tumbang ke sungai. Setalah diperiksa ternyata Mbah jogoreso juga sudah meninggal. Perasaan sedih menyelimuti hati para pasukannya atau penduduk yang senasib seperjuangan dalam mencari wilayah untuk tempat tinggal. Akhirnya para penduduk setuju dan memutuskan bahwa Mbah Jogoreso dan Buyut Endang dimakamkan di tempat dekat mereka masing-masing ditemukan saat terdampar di sungai. Sehingga letak makam Buyut Endang dan mbah Jogoreso tidak bersebelahan, akan tetapi berdasar ditemukannya saat mereka berdua terdampar. Jadi makam Buyut Endang di sebelah barat sedangkan Mbah Jogoreso di sebelah timur (di hutan dekat sungai saat mereka terdampar). Samapai sekarang makamnya masih ada dan sungai itu sudah menjadi desa. Setelah meninggalnya Mbah Jogoreso dan Buyut Endang, para penduduk berjanji akan meneruskan cita-cita mereka berdua yaitu menebang (membabat) hutan untuk dijadikan pemukiman atau desa. Mereka berbagi tugas untuk meneruskan cita-cita tersebut dan sepakat mengawali pembabatan hutan itu yang peratama dimulai dari wilayah yang dekat makam Mbah Jogoreso dan Buyut Endang.

Setelah beberapa tahun kemudian dengan bertambahnya jumlah warga yang juga memiliki kepandaian, akhirnya hutan belantara berubah menjadi pemukiman atau sebuah desa. Bahkan sungai yang menghanyutkan Mbah Jogoreso beserta Buyut Endang pada saat mengalami kekeringan, oleh warga diratakan dengan tanah dan menjadi tempat tinggal pula. Akan tetapi desa yang sudah dihuni banyak penduduk itu belum memiliki nama. Sampai masa sebelum G30/SPKI di desa itu ada seorang warga menemukan sebuah benda yang berbentuk persegi ukurannya kecil di kebun dekat langgar, yang sekarang menjadi masjid dan diberi nama masjid Jami’ Al-Mubarok. Kebun tempat ditemukan persegi (kotak) itu dulunya milik warga setempat yang bernama Mbah Yem, setelah kotak kecil ditemukan oleh seorang warga kemudian dibukalah kotak tersebut. Kotak itu berisi baju berwarna putih atau orang dahulu menyebutnya kelambi putih. Ahkirnya seorang warga yang menemukan baju putih tadi mengadakan pengumuman, siapa yang merasa memiliki baju (kelambi) putih ini ? warga masyarakat memberikan pernyataan bahwa tidak ada seorangpun yang mempunyai baju putih tersebut. Lalu dikemudian hari kotak kecil yang berisi baju putih itu diserahkan pada pemerintah Sidoarjo dan disimpan dalam museum. Setelah waktu 1 minggu salah seorang warga mengambil kotak tersebut dan disimpan di rumah seorang warga yang menjadi sesepuh desa tersebut. Baju (kelambi) putih itu oleh seorang warga dicoba untuk dibakar akan tetapi tidak bisa terbakar sedangkan pada saat dicuci juga tidak basah. Akhirnya baju putih itu disampan oleh seorang warga dan diabadikan sebagai benda sakral atau keramat. Karena baju putih yang ditemukan dalam kotak pada sebuah “kebun” dan kegunaannya sebagai penutup tubuh “sikepi/nyikepi awak” maka pada akhirnya masyarakat sepakat menggunakan istilah tersebut untuk nama desanya, yaitu Kebunsikep. Ketika pada saat ditinggal Mbah Jogoreso dan Buyut Endang desa itu belum memiliki sebuah nama. Dianggap kurang enak didengar maka warga mengganti “Kebunsikep” menjadi “Keboansikep”.
Dengan kondisi masyarakat yang sudah modern, demi kepentingan sebuah desa maka dibentuklah kepala desa beserta perangkat desa. Selain itu wilayah desa Keboansikep dibagi mejadi 3 dusun yaitu : dusun Congkop, dusun Calukan dan dusun Sikep. Desa Keboansikep ini berbatasan langsung, sebelah timur berbatasan dengan desa Gedangan, sebelah utara berbatasan dengan desa Bohar, sebelah barat berbatasan dengan desa Keboananom, dan disebelah selatan berbatasan dengan desa Seruni.











2.5 Letak Georafis Desa Keboananom
A. Luas Wilayah (km 2)          : 1,3
B. Jumlah Penduduk Desa kebonanom:
            Jumlah penduduk        : 8096
C. Batas Wilayah
            Timur               : Desa Ganting
            Barat               : Desa Seruni
Utara               : Desa Keboansikep
Selatan                        : Desa Karangbong

2.6 Interaksi Antar Tiga Desa
Desa Keboananom
 
Desa Kebansikep
 
Desa karangbong
 
 














Misalnya:
A: Desa Keboananom
B: Desa Keboansikep
C: Desa Karangbong








Rumus Interaksi:
 





                                          
Keterangan:
       F    = Interaksi
       M1 = Jumlah penduduk diwilayah 1
       M2 = Jumlah penduduk diwilayah 2
       r2   = Jarak

  • Interaksi antara Desa A dan B

                        8096 .  10993
   F  =
                             32 km
                       88999328
        =       
                9 km           
      
       =    9.888.814,2

  • Interaksi antara Desa B dan C

                   10993 . 5365
   F  =
                        402 km
                   58977445
        =       
            1600 km
      
       =     36.860.9










  • Interaksi antara Desa C dan A

                        5365 . 8096
   F  =
                        202  km
                       

43435040
        =       
            400 km
      
       =     108.587,6

            Interaksi antar desa tersebut yang paling banyak jumlahnya yaitu interaksi Desa Keboananom dan Desa Keboansikepyang jumlahnya mencapai 9.888.814,2




  • Faktor yang mempengaruhi interaksi ke Desa Keboansikep
    1. Dilokasi desa keboansikep terdapat pabrik industri,
    2. Pertokoan
    3. Perdagangan
    4. Pasar
    5. Sekolah
    6. Perumahan
    7. Letaknya stratekis, kendaran tranfortasi mudah terjangkau
    8. Kendaran tranfortasi mudah terjangkau
    9. Pertambangan
    10. Pertanian
    11. Warnet
    12. Foto copy
    13. Warkop
    14. Masjid/ Mushola
    15. Dan dilaksanakan rutinan yasinan serta pengajian.






BAB III
SIMPULAN



Simpulan :

            Bahwa interaksi dari ketiga desa tersebut yang paling besar adalah Desa Keboananom dengan Desa Keboansikepyang jumlahnya mencapai 9.888.814,2.
Yang terbanyak kepadatan penduduknya yaitu Desa Keboansikep dibandimgkan deangan yang lainnya.  Desa Karangbong yaitu Mbah Sayid Mahmud asal dari pasukan Mataram, dan karangbong dari istilah ”Karangan di obong” sedangkan sebuah “kebun” dan kegunaannya sebagai penutup tubuh “sikepi/nyikepi awak” maka pada akhirnya masyarakat sepakat menggunakan istilah tersebut untuk nama desanya, yaitu Kebunsikep. Ketika pada saat ditinggal Mbah Jogoreso dan Buyut Endang desa itu belum memiliki sebuah nama. Dianggap kurang enak didengar maka warga mengganti “Kebunsikep” menjadi “Keboansikep”.

Yel-yel Kelas

Yel-yel kelas 4

Satu-satu kelas 4 sehat

Dua-dua kelas 4 hebat

Tiga-tiga kelas 4 kuat

Satu, dua, tiga kelas 4 pasti bisa

(nada lagu satu-satu)



PPL di SDN Lemahputro 1


Dokumentasi  kegiatan belajar mengajar







Makasih buat semuanya :D kecerianmu adalah kebahagianku, masa depanmu adalah penerus bangsa. karartermu adalah cerminan bangsa jadi, tetap semangat untuk meraih impian...